Kisah Bisnis Online Indowebster Juni (Acong)

Kisah Bisnis Online Indowebster Juni (Acong)

duniabisnisonline.web.id – Kisah Bisnis Online Indowebster Juni (Acong), Pada akhir 1990-an, Acong sudah membuat reputasinya sendiri saat berkuliah di Stamford College di Malaysia sebagai hacker muda pemberani dari Riau

yang bisa meretas sistem siapapun, meminjam sumber coding website mereka, dan mengubahnya menjadi “sesuatu yang lebih menyenangkan”. Pada tahun 2002, Acong putus kuliah setelah mengunjungi Jakarta selama akhir semester dan membuka warnet hybrid pertama yang beroperasi 24 jam di Jakarta, yang kemudian ia beri nama AMPM. Tak lama setelah itu, ia mendirikan Indowebster, website file hosting multimedia asal Indonesia yang terkenal di dunia.

Baca juga : Daftar Perusahaan yang Mengizinkanmu Bekerja di Rumah (Online)

Pada bulan April tahun berikutnya, Acong mendirikan Indowebster, website file hosting multimedia asal Indonesia yang terkenal di dunia (seperti YouTube) yang kini sudah dikenal oleh banyak orang di Indonesia. Tujuh tahun setelah berdirinya Indowebster, Acong akhirnya siap untuk melakukan diversifikasi, dan secara aktif mencari investor pihak luar pertamanya. Meskipun Indowebster sebagai Situs Judi Slot dan Casino menghadapi tantangan investasi yang unik seperti fakta bahwa mayoritas konten di website tersebut adalah ilegal, Acong tetap tenang, dan percaya diri bahwa perusahaan ini akan beradaptasi dan bertahan. “Jika kami menemukan investor yang tepat, seharusnya tidak ada masalah,”

Di masa lalu, ia bersikeras menginginkan investor dari Indonesia saja, tapi kini tampaknya Acong tidak begitu pilih-pilih. Dengan berkeyakinan bahwa persaingan adalah hal yang baik, ia mengajak semua investor untuk menghubunginya, asalkan bukan perusahaan layanan komputer asal China yang dipimpin oleh Pony Ma. Acong mengatakan, “Bagi saya, tidak masalah jika mereka asing atau lokal, tapi mudah-mudahan tidak Tencent!” Meski ia menolak berkomentar tentang hal itu, Acong menyebutkan bahwa setelah mengunjungi gedung kantor dengan jumlah lantai 26 milik Tencent di Shenzhen pada pertengahan 2009, ia ingin kembali ke Indonesia dan membangun sebuah gedung berlantai 27, satu lantai lebih tinggi dari markas Tencent.

Acong bersandar di sofa biru yang nyaman dan mengabaikan panggilan telepon yang masuk. Ia menunjuk sekelompok orang yang bekerja di depan laptop di luar jendela ruang rapatnya. “Saya membimbing para entrepreneur tersebut,” katanya sungguh-sungguh. “Saran terbaik saya: bertahan hidup! Jika Anda terus bertahan untuk beberapa tahun pertama, maka Anda dapat beradaptasi dengan pasar dan menemukan model yang baik untuk Anda.” Sebagai orang yang berhasil bertahan, Acong tentunya bisa menjamin strategi tersebut.

Related posts