Kisah Bisnis Online Jatis Group Izak Jenie

Kisah Bisnis Online Jatis Group Izak Jenie

duniabisnisonline.web.id – Kisah Bisnis Online Jatis Group Izak Jenie, Izak Jenie merupakan seorang entrepreneur yang gigih dan tidak pernah menyerah. Setelah sebelumnya gagal berkali-kali, pada 1997, ia bersama dengan beberapa rekannya mendirikan Jatis Group, sebuah perusahaan konsultan IT yang menawarkan solusi IT untuk bank, perusahaan telekomunikasi, jasa pembayaran, dan berbagai perusahaan lainnya. Kini, lebih dari 80 persen pedagang reksa dana di Indonesia menggunakan platform trading Jatis.

Pada usia 43 tahun, Izak Jenie masih berbicara mengenai ide-ide bisnis serta proyek terbarunya. Ia memang tidak bisa berhenti. Izak adalah lelaki yang telah mendirikan lebih dari 10 perusahaan di Indonesia sejak usia 19 tahun. Sebagian besar mengalami kegagalan, tetapi perusahaannya yang bertahan adalah perusahaan-perusahaan yang namanya saat ini sudah terkenal di Indonesia, dan menghasilkan pendapatan puluhan juta dollar setiap tahunnya. Beberapa perusahaan milik Izak yang tergolong sangat sukses termasuk Jatis Grup, Jatis Mobile, dan Metrotech Makmur Sejahtera (MMS).

Baca juga : Kisah Bisnis Online M-Stars Group Joseph Edi Lumban Gaol

Datang dari keluarga dengan penghasilan rata-rata, Izak tergolong orang yang haus akan kesuksesan. Startup pertamanya adalah perusahaan komputer grafis yang diluncurkan pada 1989 saat ia masih duduk di bangku kuliah. Pada saat itu, komputer memang belum tersedia secara luas dan masih belum ada internet. Izak tergolong cukup beruntung karena memiliki komputer di rumahnya.

Sesaat setelah kelulusan, teman-temannya dengan cepat mampu mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi di perusahaan, sementara Izak membutuhkan sembilan bulan untuk mendapatkan pekerjaan sebagai desainer grafis karena sebagian besar perusahaan mempekerjakan orang berdasarkan nilai akademis mereka. Setelah bekerja selama satu tahun, ia kemudian menyadari bahwa ia tidak menyukai alur kerja rutin di perusahaan. Ketika sedang di kantor, Izak lebih suka mengerjakan proyek teknologi lain yang lebih menarik untuknya. Salah satunya disebut Free World Dial-Up service, sebuah layanan yang memungkinkan orang-orang untuk menelpon ke luar negeri secara hemat, yaitu menggunakan internet. Pada dasarnya, inilah yang dilakukan Skype pada saat ini, tetapi Izak telah mengerjakan konsep tersebut pada tahun 1995.

Pada tahun yang sama, ia membaca sebuah buku berjudul Going Digital dari Nicholas Negroponte. Isi buku tersebut menyadarkannya bahwa dunia akan segera berubah. Ia kemudian mundur dari pekerjaannya dan memulai usaha toko buku online. Secara bersamaan, ia juga memulai beberapa perusahaan lain dengan partner yang berbeda. Semua startup ini gagal. Pemilihan waktu yang kurang tepat dan perselisihan antar rekan kerja adalah alasan utama kegagalan yang terjadi; sebagai contohnya toko buku online mereka gagal karena masih belum terlalu banyak orang yang online pada pertengahan tahun ‘90 an, dan hampir tidak ada seorangpun yang berbelanja di sana.

Meski gagal berkali-kali, Izak tidak pernah menyerah. Bersama-sama dengan Jusuf Sjariffudin dan Ishak Surjana, ia mendirikan Jatis Grup, sebuah perusahaan konsultan IT pada 1997.

Memang pada akhirnya Jatis menjadi perusahaan besar yang sangat sukses. Jatis menawarkan solusi IT untuk bank, perusahaan telekomunikasi, jasa pembayaran, dan berbagai perusahaan lainnya. Pada satu titik, lebih dari 80 persen pedagang reksa dana di Indonesia menggunakan platform trading Jatis. Perusahaan ini mulai dengan 10 karyawan dan berkembang menjadi lebih dari 500 karyawan pada akhir tahun ketiganya. Pada tahun yang sama, Jatis juga menerima USD 10 juta dari 3i (perusahaan VC dari Inggris) untuk membantunya melakukan ekspansi ke Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Saat ini Izak masih menjadi sosok penting di MMS. Meski telah sukses, ia tidak tampak akan berhenti; ia mendirikan sebuah startup baru yaitu M-saku, sebuah sistem transaksi pembayaran berbasis mobile untuk pengguna kartu Visa di Indonesia. Kemampuan bertahan yang mampu ia tunjukkan ketika melewati masa-masa sulit, serta passion yang telah diperlihatkan selama 25 tahun usahanya adalah sesuatu yang patut dicontoh. Inilah yang perlu dipelajari oleh para entrepreneur di Asia; melihat bisnis sebagai perjalanan jangka panjang, bukan sebagai cara cepat menghasilkan uang (dengan mengincar exit yang cepat). Untuk membantu para entrepreneur muda, Izak mendedikasikan sebagian waktunya untuk menjadi mentor di Founder Institute Jakarta.

Related posts